Sistem penilaian dalam Kurikulum Merdeka berbeda secara signifikan dari kurikulum sebelumnya. Banyak guru — terutama yang baru bertransisi dari K13 — masih bingung tentang bagaimana cara menghitung nilai rapor yang benar. Artikel ini menjelaskan seluruh mekanisme penilaian dan pelaporan dalam Kurikulum Merdeka secara tuntas.

Prinsip Dasar Penilaian Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka menggeser paradigma penilaian dari "mengejar angka" menjadi "memotret perkembangan belajar". Beberapa prinsip kunci:

  • Penilaian sebagai pembelajaran (assessment as learning): siswa diajak merefleksikan kemajuan mereka sendiri
  • Penilaian untuk pembelajaran (assessment for learning): guru menggunakan hasil penilaian untuk memperbaiki strategi mengajar
  • Penilaian hasil pembelajaran (assessment of learning): mengukur pencapaian di akhir periode
  • Penilaian bersifat holistik: mencakup aspek kognitif, keterampilan, dan sikap

Jenis Asesmen dalam Kurikulum Merdeka

1. Asesmen Diagnostik

Dilakukan sebelum pembelajaran dimulai. Tujuannya bukan untuk dinilai, melainkan untuk memetakan kemampuan awal dan kebutuhan belajar siswa. Hasilnya digunakan untuk merancang diferensiasi pembelajaran.

2. Asesmen Formatif

Dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Bersifat berkelanjutan dan umpan baliknya langsung digunakan untuk perbaikan. Contoh:

  • Diskusi kelas dan tanya-jawab lisan
  • Jurnal belajar dan refleksi siswa
  • Kuis singkat di akhir pelajaran (tiket keluar)
  • Observasi guru terhadap proses kerja siswa
  • Tugas harian dan proyek mini

Catatan penting: Asesmen formatif tidak harus menghasilkan angka. Ia bisa berupa umpan balik kualitatif, komentar tertulis, atau tanda centang pada rubrik.

3. Asesmen Sumatif

Dilakukan di akhir unit/semester untuk mengukur pencapaian tujuan pembelajaran. Hasilnya inilah yang diolah menjadi nilai rapor. Contoh:

  • Ulangan akhir bab
  • Penilaian Akhir Semester (PAS) / Penilaian Akhir Tahun (PAT)
  • Presentasi proyek akhir
  • Portofolio yang dikompilasi pada akhir semester

Bagaimana Nilai Rapor Dihitung?

Kemendikbud tidak menetapkan rumus tunggal yang kaku. Setiap sekolah memiliki keleluasaan dalam menentukan bobot dan cara penghitungan, selama prinsip dasarnya terpenuhi.

Contoh Pendekatan Penghitungan (Opsi A — Nilai Akhir dari Sumatif)

Beberapa sekolah memilih untuk menjadikan nilai sumatif sebagai penentu utama nilai akhir, sementara formatif hanya digunakan sebagai pertimbangan deskriptif:

  • Sumatif Harian (rata-rata): 40%
  • Sumatif Tengah Semester: 20%
  • Sumatif Akhir Semester: 40%

Contoh Pendekatan Penghitungan (Opsi B — Nilai Berbasis Tujuan Pembelajaran)

Pendekatan ini lebih sesuai dengan filosofi Kurikulum Merdeka:

  1. Setiap TP memiliki nilai sumatif sendiri (dari ulangan akhir bab atau penilaian proyek)
  2. Nilai akhir = rata-rata nilai semua TP yang sudah diujikan dalam satu semester
  3. TP yang belum tuntas mendapat remedial, nilainya diperbarui

Skala Nilai dan Predikat

Kemendikbud tidak lagi mewajibkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dalam Kurikulum Merdeka. Sebagai gantinya, sekolah menetapkan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).

Skala nilai yang umum digunakan:

Rentang NilaiPredikatKeterangan
90–100Sangat Baik (A)Melampaui KKTP
75–89Baik (B)Mencapai KKTP
60–74Cukup (C)Mendekati KKTP
<60Perlu Bimbingan (D)Belum mencapai KKTP

Catatan: Rentang dan predikat ini dapat ditetapkan berbeda oleh masing-masing sekolah berdasarkan kebijakan internal.

Format Pelaporan Nilai di Rapor

Rapor Kurikulum Merdeka memuat:

  1. Nilai angka untuk setiap mata pelajaran
  2. Predikat berdasarkan skala yang ditetapkan sekolah
  3. Deskripsi capaian pembelajaran: narasi yang menggambarkan kompetensi yang sudah dikuasai dan yang perlu dikembangkan
  4. Nilai Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5): dilaporkan terpisah dengan deskripsi dimensi PPP yang berkembang

Nilai P5 dalam Rapor

Proyek P5 dinilai secara terpisah dari mata pelajaran. Pelaporan P5 mencantumkan:

  • Tema proyek yang dilaksanakan
  • Dimensi Profil Pelajar Pancasila yang disasar
  • Fase perkembangan per dimensi (Mulai Berkembang, Sedang Berkembang, Berkembang Sesuai Harapan, Sangat Berkembang)

Tips Mengelola Penilaian Secara Efisien

  • Gunakan rubrik yang jelas untuk setiap asesmen sumatif agar penilaian konsisten
  • Catat nilai formatif sebagai portofolio, tidak perlu semuanya diangkakan
  • Manfaatkan aplikasi e-rapor yang sudah mengakomodasi format Kurikulum Merdeka
  • Komunikasikan sistem penilaian kepada orang tua di awal semester

Membuat Deskripsi Rapor Lebih Efisien

Bagian yang paling menyita waktu dalam pengisian rapor adalah penulisan deskripsi capaian pembelajaran. PijarAI memiliki fitur Generator Deskripsi Rapor yang menghasilkan narasi personal untuk seluruh siswa berdasarkan nilai dan catatan singkat — hasilnya langsung bisa diekspor ke Word dan ditempel di e-Rapor.

Kesimpulan

Sistem penilaian Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada guru dan sekolah, namun juga menuntut pemahaman yang lebih dalam tentang prinsip asesmen. Dengan memahami perbedaan formatif dan sumatif, cara mengolah nilai, dan format pelaporan yang benar, Anda dapat mengelola penilaian secara efektif dan bermakna bagi perkembangan siswa.