Sejak Kurikulum Merdeka diimplementasikan, ribuan guru di seluruh Indonesia telah mencoba menyusun Modul Ajar. Namun dalam prosesnya, banyak kesalahan yang berulang — dari yang bersifat teknis hingga yang menyangkut pemahaman filosofis tentang Kurikulum Merdeka itu sendiri.

Mengenal kesalahan-kesalahan ini adalah langkah pertama untuk memperbaiki kualitas perangkat pembelajaran Anda.

Kesalahan 1: Menyalin Modul Ajar dari PMM Tanpa Adaptasi

Platform Merdeka Mengajar (PMM) menyediakan ribuan Modul Ajar yang bisa diunduh gratis. Ini adalah sumber daya yang sangat berharga — namun banyak guru yang menggunakannya secara mentah-mentah tanpa menyesuaikan dengan konteks sekolah dan siswa mereka.

Masalah yang muncul:

  • Sarana dan prasarana yang disebutkan tidak tersedia di sekolah
  • Konteks dan contoh tidak relevan dengan lingkungan siswa
  • Tingkat kesulitan tidak sesuai dengan kemampuan awal siswa
  • Guru tidak memahami modul yang diajarkan sehingga tidak efektif di kelas

Cara memperbaiki: Perlakukan modul dari PMM sebagai referensi, bukan template yang disalin. Sesuaikan setiap komponen dengan: kemampuan awal siswa Anda, sarana yang tersedia, konteks lokal yang relevan, dan gaya mengajar Anda sendiri. Adaptasi yang baik membutuhkan waktu, tapi hasilnya jauh lebih efektif.

Kesalahan 2: Tujuan Pembelajaran yang Terlalu Umum atau Tidak Terukur

Salah satu komponen paling kritis dalam Modul Ajar adalah Tujuan Pembelajaran (TP). Namun, banyak guru masih merumuskan TP yang kabur dan tidak bisa diukur.

Contoh TP yang salah:

  • "Siswa memahami konsep fotosintesis" — Bagaimana kita tahu siswa sudah "memahami"?
  • "Siswa mengenal sejarah kemerdekaan Indonesia" — Sejauh mana mengenal?

Contoh TP yang benar:

  • "Siswa dapat menjelaskan proses fotosintesis dengan menyebutkan bahan-bahan yang diperlukan, produk yang dihasilkan, dan faktor yang memengaruhi lajunya"
  • "Siswa dapat menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945"

Cara memperbaiki: Gunakan kata kerja operasional yang terukur (sebutkan, jelaskan, analisis, rancang, evaluasi) dan pastikan TP mencakup kompetensi (apa yang bisa dilakukan) dan konten (tentang apa).

Kesalahan 3: Asesmen Hanya di Akhir — Melupakan Formatif

Banyak Modul Ajar yang bagian asesmennya hanya berisi soal ulangan akhir bab. Asesmen formatif — yang seharusnya menjadi tulang punggung pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka — diabaikan atau hanya disebutkan secara formalitas.

Dampaknya: Guru tidak mendapat data tentang pemahaman siswa selama proses belajar, sehingga tidak bisa menyesuaikan strategi mengajar. Siswa baru mengetahui bahwa mereka tidak paham ketika ulangan sudah berlangsung — terlambat untuk perbaikan.

Cara memperbaiki: Sematkan asesmen formatif yang konkret di setiap pertemuan. Contoh sederhana yang efektif:

  • Tiket keluar: siswa menulis satu hal yang dipahami dan satu pertanyaan di akhir pelajaran
  • Think-Pair-Share: siswa mendiskusikan pertanyaan guru dengan teman sebangku
  • Kuis 3 soal: kuis cepat di akhir pelajaran, hasilnya tidak dinilai tapi dianalisis guru
  • Observasi terstruktur: guru mengamati diskusi kelompok dengan ceklis sederhana

Kesalahan 4: Profil Pelajar Pancasila (PPP) Dipaksakan, Tidak Organik

Dimensi Profil Pelajar Pancasila (PPP) adalah komponen wajib Modul Ajar. Namun sering kali, guru mencantumkan PPP hanya untuk memenuhi kelengkapan administrasi — tanpa kegiatan pembelajaran yang benar-benar mengembangkan dimensi tersebut.

Contoh yang salah: Modul Ajar Matematika tentang aljabar mencantumkan enam dimensi PPP sekaligus, padahal kegiatan pembelajaran hanya berupa latihan soal individu.

Cara memperbaiki: Pilih 1–2 dimensi PPP yang benar-benar muncul secara alami dalam kegiatan pembelajaran. Tanyakan: "Kegiatan apa dalam modul ini yang benar-benar membutuhkan siswa untuk bergotong royong / berpikir kritis / dll.?" Jika jawabannya tidak ada, ubah kegiatannya — atau ubah pilihan dimensinya.

Kesalahan 5: Kegiatan Pembelajaran Masih Berpusat pada Guru

Kurikulum Merdeka secara eksplisit mendorong pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered). Namun, banyak Modul Ajar yang kegiatan intinya masih berupa: "Guru menjelaskan materi → Siswa mencatat → Siswa mengerjakan soal." Pola ini adalah pembelajaran teacher-centered yang dikemas dalam format Kurikulum Merdeka.

Dampaknya: Siswa pasif, tidak berkembang kemampuan berpikir kritisnya, dan pembelajaran tidak bermakna.

Cara memperbaiki: Geser peran guru dari "penyampai informasi" menjadi "fasilitator". Rancang kegiatan yang menempatkan siswa sebagai pelaku aktif:

  • Siswa menemukan konsep melalui eksplorasi dan diskusi, bukan diceramahi
  • Siswa memecahkan masalah nyata, bukan hanya mengerjakan soal buku
  • Siswa mempresentasikan dan mempertahankan hasil kerja mereka
  • Siswa merefleksikan proses belajar mereka sendiri

Bonus: Kesalahan Kecil yang Sering Terlupakan

  • Tidak mencantumkan sarana dan prasarana secara spesifik
  • Alokasi waktu tidak realistis (60 menit untuk 10 kegiatan)
  • Lampiran LKPD tidak konsisten dengan kegiatan inti
  • Tidak ada rencana diferensiasi untuk siswa berkebutuhan khusus
  • Modul tidak di-review ulang setelah digunakan di kelas

Menyusun Modul Ajar yang Benar Lebih Mudah dengan Bantuan Teknologi

Memperbaiki kelima kesalahan di atas membutuhkan pemahaman mendalam dan waktu yang cukup. PijarAI membantu guru menyusun Modul Ajar yang sudah mengikuti prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dengan benar — TP yang terukur, asesmen formatif dan sumatif yang terintegrasi, serta LKPD yang mendorong keaktifan siswa.

Kesimpulan

Menyusun Modul Ajar Kurikulum Merdeka yang benar membutuhkan proses belajar. Kelima kesalahan di atas adalah yang paling umum terjadi, dan semuanya bisa diperbaiki dengan pemahaman yang tepat dan kemauan untuk terus berkembang. Ingat: Modul Ajar yang baik bukan yang paling panjang atau paling indah secara estetika — melainkan yang paling efektif membawa siswa mencapai tujuan pembelajaran.